![]() |
| Indra Halmahera, Kader GMNI Kendari/MEDIA GMNI SULTRA. |
Penulis: Indra Halmahera. Kader GMNI Kendari.
GMNISULTRA.OR.ID - Kalau hukum itu punya jantung, jantung itu bernama hati nurani. Dan di negeri ini, jantung itu sedang hilang. Bukan hilang di buku undang-undang. Pasal-pasalnya masih lengkap. Hilangnya di dada manusia-manusia yang menjalankan dan menonton hukum itu.
Di ruang sidang pertama, ada Jokowi. Mantan Presiden yang pernah memegang seluruh kekuasaan di negeri ini.
Ia datang bukan dengan ketakutan, tapi dengan rombongan. Pendukungnya menangis dan berteriak, seolah menyaksikan pahlawan yang dizalimi, hanya karena ia diminta menunjukkan ijazahnya.
Padahal pertanyaannya sederhana: Asli atau tidak? Pertanyaan yang setiap hari ditanyakan kepada rakyat kecil saat melamar kerja.
Tapi ketika ditanyakan kepada mantan Presiden, tiba-tiba hukum dianggap jahat dan hakim dianggap kejam.
Mereka menangisi orang yang setelah sidang pulang ke rumah mewah, tidur nyenyak, makan enak, dan dikawal. Mereka menangisi orang yang mempertaruhkan hanya selembar kertas dan gengsi politik, bukan nasib hidupnya.
Itu bukan hati nurani. Itu komedi. Komedi di mana orang kuat pura-pura menjadi korban, dan penontonnya ikut pura-pura menangis.
Lalu pindah ke ruang sidang kedua.
Di sana tidak ada rombongan. Tidak ada kamera yang berebut simpati. Tidak ada buzzer yang membuat tagar pembelaan.
Hanya ada Nenek Mina. Nenek tua, kurus, lututnya rapuh dimakan usia dan kemiskinan.
Di depan hakim, ia bersujud. Bersujud!
Bukan karena membunuh. Bukan karena merampok bank. Bukan karena menggelapkan triliunan uang rakyat.
Ia bersujud hanya karena mencuri 3 buah kakao. Tiga. Buah yang harganya tidak cukup untuk membeli sebungkus permen.
Di mana hati nurani kita saat melihat itu? Kenapa tidak ada yang menangis untuk Nenek Mina seperti mereka menangis untuk Jokowi?
Pasal 27 ayat 1 UUD 1945 bilang semua warga negara sama di depan hukum. Tapi hati nurani kita sudah memilih: yang kaya dan berkuasa layak dikasihani, yang miskin dan tua layak dihukum.
Apa bahaya sosial dari 3 buah kakao? Tidak ada. Apa bahaya sosial dari pemimpin negara yang keaslian ijazahnya diragukan? Sangat besar. Karena itu menyangkut legitimasi kekuasaan dan kepercayaan jutaan rakyat. Tapi hati nurani kita terbalik. Yang kecil kita hukum dengan ancaman besar. Yang besar kita bela dengan air mata besar.
Hukum untuk Jokowi menjadi komedi kekuasaan yang harus sopan dan jangan sampai menyinggung massa. Hukum untuk Nenek Mina menjadi tragedi kemiskinan yang kaku, dingin, dan tanpa ampun. Tidak ada ruang untuk bertanya, Nek, kenapa mencuri? Apakah nenek lapar?
Padahal hakim bukan robot pembaca pasal. Dan kita bukan penonton bioskop yang hanya bisa tertawa dan menangis sesuai skenario.
Kita sedang kehilangan kemampuan paling dasar dalam hukum: kemampuan untuk merasa malu. Malu saat kita menangisi mantan Presiden yang hidup dalam kemewahan, tapi kita diam saat seorang nenek harus bersujud untuk meminta kebebasan dari 3 buah kakao.
Selama hati nurani itu belum kembali, ruang sidang kita akan tetap punya dua wajah: wajah yang tertawa untuk yang berkuasa, dan wajah yang menangis untuk yang miskin.
Dan itu bukan hukum. Itu hanya sandiwara yang kehilangan jiwanya.***



